Share

Dari Balik Jeruji Lapas Semarang Kenalkan Batik Tulis Lewat Siaran Radio RRI

by Humas Lapas Semarang · April 24, 2026

SEMARANG, INFO_PAS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang terus memperkuat komitmennya dalam pembinaan kemandirian warga binaan melalui inovasi produksi batik. Hal ini disampaikan dalam siaran radio bersama RRI Semarang bertajuk “Di Balik Jeruji: Tumbuh Inovasi Batik Produksi”, Jumat (24/04).

Kegiatan yang berlangsung pukul 10.45 hingga 11.45 WIB tersebut menghadirkan Kepala Seksi Pengelola Hasil Kerja beserta staf Bimbingan Kerja Lapas Kelas I Semarang. Dalam siaran itu, dibahas secara komprehensif proses pembinaan kemandirian melalui produksi batik, mulai dari tahap pelatihan hingga pemasaran hasil karya warga binaan.

Program pembinaan batik di Lapas Kelas I Semarang diawali melalui pelatihan yang bekerja sama dengan Kinanthi Wastra Batik. Dalam pelaksanaannya, warga binaan mendapatkan bimbingan bertahap dari instruktur serta dukungan petugas Lapas dalam mengembangkan keterampilan.

Proses pembuatan batik tulis dimulai dari pengenalan motif dan desain, kemudian dilanjutkan dengan pencantingan menggunakan malam (lilin batik) di atas kain. Tahap berikutnya meliputi pewarnaan, pelorodan (penghilangan malam), hingga finishing sebelum produk siap dipasarkan. Seluruh rangkaian proses tersebut dilakukan dengan pengawasan dan pendampingan, sehingga menghasilkan karya batik yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi.

Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari, menyampaikan bahwa siaran radio ini menjadi sarana untuk memperkenalkan hasil pembinaan sekaligus menunjukkan potensi produktif warga binaan.

“Kegiatan ini menjadi media untuk mengenalkan hasil pembinaan kemandirian warga binaan kepada masyarakat luas. Kami ingin menunjukkan bahwa di balik jeruji, warga binaan tetap mampu berkarya, berinovasi, dan menghasilkan produk yang bernilai,” ujar Ahmad Tohari.

Ia menambahkan bahwa pembinaan berbasis keterampilan seperti batik merupakan bagian dari upaya mempersiapkan warga binaan agar memiliki bekal saat kembali ke tengah masyarakat.

Melalui program ini, warga binaan tidak hanya dibekali keterampilan teknis membatik, tetapi juga pemahaman menyeluruh terkait proses produksi hingga pemasaran, sehingga diharapkan dapat menjadi modal untuk berwirausaha.

Di akhir kegiatan, Ahmad Tohari berharap inovasi pembinaan semacam ini dapat terus dikembangkan dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi warga binaan.

“Harapan kami, keterampilan yang diperoleh dapat menjadi jalan bagi warga binaan untuk mandiri setelah bebas, sekaligus mengubah stigma masyarakat bahwa pemasyarakatan merupakan tempat pembinaan yang produktif dan penuh harapan,” pungkasnya.

You may also like