
SEMARANG – Program pembinaan kemandirian warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang kembali menunjukkan hasil positif. Kali ini, area beranggang luar Lapas Kelas I Semarang menjadi lokasi panen kangkung yang dibudidayakan oleh warga binaan di bawah pengawasan petugas, Jumat (02/10).
Dari kegiatan panen tersebut, berhasil diperoleh sebanyak 60 kg kangkung segar. Berbeda dari mekanisme sebelumnya, hasil panen kali ini akan dijual kepada pihak ketiga penyedia bahan makanan (Bama). Selanjutnya, kangkung tersebut akan diolah kembali dan disuplai ke dapur Lapas Kelas I Semarang untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan.
Bagi warga binaan, kegiatan pertanian menjadi salah satu cara untuk mengurangi kejenuhan sekaligus memberikan relaksasi melalui aktivitas bercocok tanam. Berbagai jenis tanaman dibudidayakan, mulai dari cabai, tomat, terong, hingga aneka sayuran lainnya.
Proses panen kangkung ini melibatkan warga binaan bersama sejumlah peserta magang dan petugas yang turut membantu secara langsung. Selain mendukung keberhasilan program pertanian, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman kerja baru bagi para peserta magang di Lapas Kelas I Semarang.
Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas I Semarang menyambut baik dan mengapresiasi capaian positif program pembinaan kemandirian di bidang pertanian. Menurutnya, hasil panen tersebut menjadi salah satu bukti nyata keberhasilan pembinaan kemandirian yang dilaksanakan di dalam lapas.

“Kami sangat bersyukur atas hasil positif dari program pembinaan kemandirian ini. Sebanyak 60 kg kangkung hasil panen akan kami alokasikan kepada pihak Bama untuk selanjutnya diolah dan disuplai kembali ke dapur lapas sebagai bahan makanan bagi warga binaan. Kegiatan ini tidak hanya melatih kemandirian, tetapi juga turut membantu memenuhi ketersediaan bahan makanan di dalam lapas,” ungkapnya.
Salah satu warga binaan berinisial WR yang turut terlibat dalam kegiatan panen mengungkapkan kegembiraannya atas hasil yang diperoleh. Ia menyampaikan bahwa kegiatan bercocok tanam menjadi aktivitas positif yang membantunya mengurangi rasa jenuh selama menjalani masa pembinaan di dalam lapas.
“Saya merasa senang bisa mengikuti kegiatan pertanian di Lapas Kelas I Semarang. Bagi saya, bertani merupakan kegiatan yang produktif sekaligus menjadi sarana relaksasi. Semoga program pertanian ini dapat memberikan manfaat bagi kami sebagai warga binaan, khususnya dalam mengembangkan keterampilan,” ujarnya.
