Share

Deteksi Dini Penyakit Pegawai Lapas Semarang Jalani Skrining TBC dan Cek Kesehatan Gratis

by Humas Lapas Semarang · September 10, 2026

SEMARANG, INFO_PAS – Menjaga kesehatan dan kebugaran petugas menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung pelaksanaan tugas dan pelayanan publik di lingkungan pemasyarakatan. Untuk memastikan kondisi kesehatan jajaran tetap terpantau, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang kembali bersinergi dengan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang melalui kegiatan Tracing Tuberkulosis (TBC) yang dirangkaikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Graha Pancasila.

Setelah sebelumnya menyelesaikan skrining kesehatan bagi seluruh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), kegiatan pemeriksaan kali ini menyasar jajaran pegawai dan peserta magang. Pemeriksaan dilaksanakan secara bertahap mulai Selasa (08/08) hingga Kamis (10/09) sebagai upaya memastikan kesehatan seluruh unsur yang beraktivitas di lingkungan Lapas tetap terjaga.

Kegiatan tersebut menjadi langkah preventif untuk mendeteksi sejak dini potensi penyakit menular, khususnya TBC, sekaligus melakukan pemantauan terhadap penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi dan diabetes. Mengingat tingginya aktivitas dan interaksi di lingkungan Lapas, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kondisi kesehatan bersama.

Untuk mendukung pelaksanaan pemeriksaan, tim medis gabungan dari DKK Semarang, puskesmas jaringan, dan Klinik Pratama Lapas menyiapkan tahapan pemeriksaan secara sistematis. Peserta terlebih dahulu melakukan pendaftaran dan mengisi kuesioner mengenai riwayat kesehatan sebelum melanjutkan ke tahapan pemeriksaan berikutnya.

Pemeriksaan kemudian dilanjutkan dengan foto rontgen dada atau chest X-ray untuk mengetahui kondisi paru-paru. Peserta juga menjalani pemeriksaan fisik dasar yang meliputi penimbangan berat badan, pengukuran lingkar perut, pemeriksaan tekanan darah, serta pemeriksaan kadar gula darah. Pemeriksaan kolesterol turut dilakukan apabila diperlukan.

Setelah seluruh tahapan pemeriksaan selesai, peserta mendapatkan kesempatan berkonsultasi langsung dengan dokter. Hasil pemeriksaan kemudian dievaluasi untuk memberikan gambaran kondisi kesehatan peserta sekaligus menentukan langkah lanjutan apabila ditemukan indikasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Perwakilan DKK Semarang, Agustin dan Tria, menyampaikan bahwa upaya perlindungan kesehatan di lingkungan Lapas perlu dilakukan secara menyeluruh dan mencakup seluruh unsur yang berada di dalamnya. Hal tersebut mengingat tingginya interaksi dan aktivitas yang berlangsung di kawasan Lapas.

“DKK Semarang sengaja ingin menggandeng Lapas, karena kawasan ini memiliki populasi yang terbilang padat. Tidak ada pembedaan, baik WBP maupun petugas, semuanya punya hak yang sama untuk mendapatkan akses layanan kesehatan gratis. Kuncinya ada pada deteksi awal, semakin cepat diketahui, semakin cepat penanganan medis diberikan,” ungkap Agustin.

Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari, menyambut baik sinergi yang terus terjalin bersama DKK Semarang tersebut. Menurutnya, kondisi kesehatan petugas perlu mendapatkan perhatian karena menjadi salah satu faktor pendukung dalam menjalankan tugas pemasyarakatan yang memiliki berbagai tantangan.

“Pemeriksaan rutin ini bukan sekadar formalitas, melainkan investasi kesehatan bagi seluruh staf dan peserta magang. Lewat deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular ini, kita bisa memutus rantai penularan sedini mungkin demi menciptakan lingkungan kerja yang aman, prima, dan kondusif,” tegas Ahmad Tohari.

Sebagai bentuk tindak lanjut pemeriksaan, Lapas Semarang juga telah menyiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan apabila ditemukan indikasi TBC. Peserta yang hasil rontgennya menunjukkan adanya indikasi gejala TBC akan menjalani pemeriksaan lanjutan berupa pengambilan sampel dahak untuk kemudian diperiksa di laboratorium rujukan di luar Lapas.

Apabila berdasarkan pemeriksaan lanjutan terdapat peserta yang terkonfirmasi positif TBC, yang bersangkutan akan mendapatkan pendampingan pengobatan secara intensif. Data dan rekam medis pasien juga akan dicatat dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) sebagai bagian dari proses penanganan dan pemantauan penyakit.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 hingga 13.30 WIB tersebut berjalan dengan tertib, lancar, dan kondusif. Pelaksanaan kegiatan didukung oleh Pejabat Struktural, tim medis, serta Regu Pengamanan Lapas Kelas I Semarang sehingga seluruh rangkaian pemeriksaan dapat terlaksana dengan baik.

You may also like