Share

Warga Binaan Lapas Semarang Panen Ratusan Telur Ayam Perhari

by Humas Lapas Semarang · June 9, 2026

Semarang – Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang setiap hari memanen ratusan butir telur dari peternakan ayam petelur yang dikelola di lingkungan Lapas. Saat ini, terdapat 308 ekor ayam petelur produktif yang menjadi bagian dari program tersebut.

Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari, menjelaskan bahwa peternakan ayam petelur merupakan salah satu sarana pembinaan bagi warga binaan. Peternakan tersebut menjadi bagian dari program integrated farming yang mencakup sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.

“Kami memiliki laboratorium mini dan lahan integrated farming yang dimanfaatkan untuk pembinaan warga binaan. Selain untuk kegiatan rutin, di situ warga binaan juga dapat melakukan pengujian dan pengembangan ilmu yang telah didapat,” ujar Tohari.

Dalam satu hari, panen dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada pagi dan siang hari, dengan hasil produksi yang mencapai hampir 300 butir telur. Seluruh hasil panen kemudian dipasarkan kepada mitra Lapas. Hasil penjualan dimanfaatkan untuk modal usaha, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), serta premi bagi warga binaan yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Khusus bagian peternakan, ada tiga warga binaan yang mengelola. Penetapan pekerja ini sebelumnya melalui beberapa seleksi, jika terpenuhi baru bisa dipekerjakan. Setiap hari mereka bekerja dengan didampingi oleh petugas,” jelas Kalapas.

Salah satu warga binaan yang bekerja di peternakan, Bedi, terpidana kasus narkotika, mengaku lebih memilih mengikuti kegiatan kerja dibanding hanya berada di dalam kamar hunian. Bedi dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan saat ini telah menjalani tahun keempat masa pidananya.

“Saya senang kerja, ikhlas, saya sudah menerima keadaan, daripada di blok cuma diam saja. Awalnya kerja di taman, kemudian ditawari di sini dan saya mau. Selama kerja di sini saya menikmati dan tidak ada kendala,” ungkap Bedi.

Meskipun sedang menjalani masa pidana, Bedi tetap memiliki harapan untuk masa depannya. Berbekal keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti program pembinaan di Lapas, ia bercita-cita membangun usaha bersama keluarganya setelah bebas nanti.

“Kalau sudah bebas saya berencana membangun usaha ayam kampung. Ilmunya sudah saya dapat, jadi kalau ada modal tinggal menjalankan saja,” pungkas Bedi.

You may also like